Kamis, 01 Desember 2011

Kebiasaan sehari-hari (Daily Life) Hewan Kadal (Mabouya multifasciata)

Jurnal Ekologi Hewan, Volume V – Halaman 001, Desember 2010

“Daily Life” (Kebiasaan sehari-hari) Hewan
Kadal (Mabouya multifasciata)

Nunung Haerani(0708802)1, Ratna Fitriana(0708796)2, Ni Wyn Pt Meikapasa(0708792)3, Sri Ika Yanuarti(0708807)4, Adnan Muchsin(0708785)5, Ahmad Bayadhi(0708787)6

Program Studi Biologi,Jurusan Pendidikan Biologi, FPMIPA, Universitas Pendidikan Indonesia,Bandung

Abstrak

Pada pengamatan kali kebiasaan sehari-hari yang dilakukan oleh hewan, pengamatan dilakukan terhadap hewan kadal kebun (Mobuya multifasciata). Kadal kebun merupakan hewan yang cukup gampang ditemui dan cukup mudah untuk diamati karena mobilisasinya tidak begitu rumit kecuali ketika menanggapi akan adanya ancaman atau gangguan. Pengamatan dilakukan di daerah perumahan serta perkebunan yang berada di wilayah Geger arum. Waktu pengamatan yaitu dari pukul 6 pagi sampai pukul 6 sore dengan cara melakukan pengamatan langsung dan mengikuti gerak kadal kemanapun perginya. Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh hasil berupa perilaku khas yang dilakukan oleh kadal dari pagi hingga sore hari. Di pagi hari kadal berada di tempat terbuka, siang hari berlindung di semak-semak dan mencari makan dan pada sore hari kembali ke semak untuk beristirahat.

Keyword : Daily life, kadal, Mobuya multifasciata, perilaku hewan, kebiasaan sehari-hari hewan.

PENDAHULUAN


Setiap hewan memiliki tingkah laku dan perilaku tertentu yang dilakukannya sehari-hari. Perilaku ini tetunya akan sangat berbeda ditemukan pada hewan yang lainnya. Perilaku dari pandangan biologis adalah merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan. Menurut berbagai literatur dikatakan bahwa beberapa jenis hewan seperti kanguru tikus dan kadal, hidup dalam liang yang tidak terlalu panas atau terlalu dingin dan lebih lembab (basah) di dalam udara. Hewan ini tinggal di liang mereka selama suhu panas terpapar dan muncul di malam hari untuk makan.

Perilaku merupakan bentuk respons terhadap kondisi internal dan eksternalnya. Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali ditemukan hewan yang dapat diamati tingkah lakunya, namun salah satu hewan yang pengamatannya cukup mudah dan tidak memerlukan metode ekstra adalah hewan kadal atau dalam bahasa latinnya disebut Mobuya multifasciata.

Kadal merupakan binatang sejenis reptil yang cukup gampang ditemui baik di wilayah perumahan, kebun atau persawahan. Sebagaimana hewan melata lainnya, mobilisasi hewan ini cukup tinggi namun walaupun demikian masih dapat diamati dengan hati-hati dengan metode pengamatan langsung secara sederhana. Kadal merupakan hewan dengan tubuh yang ukurannya kurang lebih 25-30 cm, warna hijau kecokelatan dan sering kali mengkilat terutama bila terkena sinar matahari. Karena mobilisasi kadal yang tidak terlalu tinggi maka memungkinkan bagi pengamat untuk melakukan pengamatan secara langsung mengenai perilaku yang biasa dilakukan oleh binatang ini.

Klasifikasi :

Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Sub phylum : Vertebrata
Classis : Reptilia
Ordo : Squamata
Sub ordo : Lacertilia
Familia : Scincidae
Genus : Mabouya
Species : Mabouya multifasciata
Nama Lokal : Kadal Kebun

Kebanyakan kadal tinggal di atas tanah (terestrial), sementara sebagiannya hidup menyusup di dalam tanah gembur atau pasir (fossorial). Sebagian lagi berkeliaran di atas atau di batang pohon (arboreal). Sebagai predator penyergap, kebanyakan kadal aktif menjelajahi lingkungannya untuk memburu mangsa. Dan walaupun kebanyakan jenisnya adalah binatang pemangsa (predator), namun makanan kadal sangat bervariasi. Mulai dari buah-buahan dan bahan nabati lain, serangga, amfibia, reptil yang lain, dan mamalia kecil lainnya.

Kadal-kadal bertubuh kecil memakan aneka serangga seperti nyamuk, lalat, ngengat dan kupu-kupu, berbagai tempayak serangga, cacing tanah, sampai kodok dan reptil yang lain yang berukuran lebih kecil. Kadal kebun (Mabuya multifasciata) terkadang memangsa kodok tegalan (Fejervarya limnocharis), bahkan suka memanjat tembok yang kasar untuk menangkap cecak kayu (Hemidactylus frenatus) yang sedang lengah. Pada saat kadal menemukan mangsanya mula-mula kadal mendekatinya dengan berjalan secara perlahan, kemudian pada saat mangsanya lengah kadal dengan gesit menyergap mangsanya dengan lidahnya yang panjang.

METODE

Pengamatan mengenai perilaku sehari-hari kadal ini dilakukan pada hari selasa, tanggal 7 Desember 2010 dari pukul 6 pagi sampai 6 sore. Tempat pengamatan dilakukan dari mulai halaman belakang rumah warga yang terletak di daerah Geger arum hingga ke perkebunan yang juga terletak di wilayah yang sama.

Metode yang digunakan dalam pengamatan perilaku sehari-hari hewan kadal ini adalah dengan melakukan pengamatan langsung pada satu hewan, kemudian mencatat perilaku yang ditunjukkan setiap beberapa waktu.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan maka diperoleh hasil perilaku sehari-hari kadal yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini:

Tabel 1. Perilaku Kadal (Mobuya multifasciata) dari pukul 6 pagi sampai 6 sore.

Pukul

Bentuk kebiasaan yang dilakukan

06.00-08.30

Menyusup di antara dedaunan kering pada tempat terbuka.

Perilaku yang ditunjukkan: Hanya berjalan dengan intensitas mobilitas yang rendah, sesekali menggerakkan kepalanya untuk menangkap ngengat/nyamuk yang lewat.

08.30-09.00

Mulai berjalan dengan melewati semak-semak di pinggir tembok hingga sampai pada kebun sayur .

09.00-10.00

Berjemur di kebun pada tempat terbuka, sesekali meliukkan badannya ke kiri dan ke kanan.

10.00-11.00

Kadar mulai bergerak ke dedaunan-dedaunan kering yang bercampur dengan tumpukan sampah. Kadal memakan sisa-sisa makanan dalam sampah dan kupu-kupu kecil yang hinggap di rumput.

11.00

Kadal mulai menyadari adanya sinyal manusia di dekatnya sehingga ia pergi dan menuju selokan kering.

11.15-12.00

Kadal berjalan di pinggir selokan dan sesekali mengangkat kepalanya untuk menangkap nyamuk yang lewat.

12.00-13.00

Kadal mulai memanjat tembok pinggir selokan setinggi +/- 5 m dan turun kembali setelah 15 menit.

13.00-14.00

Kadal menuju rerumputan yang agak basah dan berlindung dari sengatan sinar matahari.

14.00-14.20

Kadal mendekati kodok jenis Bufo sp. Yang berada tidak jauh dari pinggir selokan namun setelah dekat, kembali menjauh.

14.00-15.00

Kadal menyusup ke belakang rumah warga dan menyusup di antara batu-bata.

(Jarak rumah sekitar 20m dari selokan).

15.00-18.00

Hujan

Dari tabel di atas, dapat dilihat perilaku yang dilakukan oleh kadal pada setiap saat tertentu. Pada pukul 6 sampai 8.30 di pagi hari, kadal lebih memilih tempat tertutup yakni bersembunyi di antara dedaunan kering, hal ini dilakukan karena udara sekitar masih cukup dingin dan kadal berlindung untuk menghangatkan tubuhnya. Di samping itu, pada waktu ini, kadal memang masih belum ingin mulai melakukan aktivitas dan baru terbangun dari tidur atau usai beristirahat di malam hari. Berdasarkan literatur, kadal memang menyukai tempat bersemak dan berumput, baik di tempat terbuka maupun yang terlindung oleh pepohonan untuk melakukan istirahat di malam hari.

Ketika sinar matahari mulai tampak yaitu pukul 9 hingga pukul 10, kadal mulai terlihat melakukan mobilisasi ke tempat yang lebih terbuka dan berjemur untuk memanaskan tubuhnya. Literatur mengatakan, kadal memang sering terlihat berjemur di pagi hari di tempat yang terbuka, tepi parit, atau di pematang sawah. Pada siang hari kadal mencari makan di tempat-tempat yang kelindungan di kebun, pekarangan atau halaman rumah. Di malam hari, kadal ini tidur di bawah lapisan serasah, timbunan kayu atau tumpukan batu. Kadal pandai memanjat pepohonan, tebing batu atau bahkan dinding tembok yang tegak namun kasar, sampai ketinggian sekitar 8-10 meter.

Kadal merupakan hewan yang suka menyendiri sehingga sangat jarang menemukan kadal hidup berkelompok dalam sebuah lingkungan, sehingga hubungan kadal dengan sesamanya tidak begitu erat. Pada saat kadal bertemu dengan sesamanya mereka akan mengangkat kepala mereka untuk berkomunikasi, dan kadal komunikasi selesai kadal-kadal yang bertemu tersebut akan pergi.

Seperti yang dikatakan di atas, pada siang hari kadal mulai meningkatkan aktivitas pergerakannya untuk mencari makan. Hal ini dapat dilihat bahwa pada pukul 11.00-14.00 kadal mulai melakukan aktivitas pemangsaannya terhadap serangga atau hewan kecil lainnya. Sesekali kadal mendapat ancaman dari pemangsa lainnya, namun dengan segera dia melakukan perlindungan dengan berlari secepat mungkin bahkan memanjat tembok rumah.

Pada pengamatan kali ini, pengamatan tidak dilakukan hingga akhir, hal ini disebabkan karena cuaca yang kurang mendukung. Pada pukul 15.00 terjadi hujan yang menyebabkan pengamatan menjadi terhenti dan pengamatan kadal diakhiri sampai kadal kembali pada halaman belakang rumah warga yang berupa semak-semak untuk melindungi diri dari guyuran hujan.

KESIMPULAN

Berdasarkan pengamatan, maka diketahui kadal memiliki tingkah laku atau pola kebiasaan yang khas yaitu di pagi hari kadal berada di tempat terbuka, siang hari berlindung di semak-semak dan mencari makan dan pada sore hari kembali ke semak untuk beristirahat.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim1,2010.” Tingkah laku dan kebiasaan pada kadal” .http://infobinatang.com/?kadal&id=578327. Online: 9 Desember 2010

Anonim2,2009. “Animal Adaptation”. http://bioweb.uwlax.edu/bio203/s2007/shah_rach/. Online: 11 Desember 2010

Anonim3,2008. “Perilaku Binatang (translate by google)”. http://animals.nationalgeographic.com/animals/mammals/african-elephant/ Online : 11 Desember 2010


Rabu, 23 November 2011

Hubungan antara Peserta didik, Bahan belajar, Tujuan pengajaran, dan Komunikasi efektif


Nama : Nunung Haerani

Nim : 0708802

UTS : Media Pembelajaran


1-a-b-c (Komunikasi Efektif-Peserta didik-Bahan Belajar-Tujuan Pengajaran)

Komunikasi efektif dalam pembelajaran merupakan proses transformasi pesan berupa ilmu pengetahuan dan teknologi dari pendidik kepada peserta didik, dimana peserta didik mampu memahami maksud pesan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, sehingga menambah wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menimbulkan perubahan tingkah laku menjadi lebih baik. Pengajar adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap berlangsungnya komunikasi yang efektif dalam pembelajaran, sehingga guru sebagai pengajar dituntut memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik agar menghasilkan proses pembelajaran yang efektif. Komunikasi ini bisa ditunjang dengan penggunaan media dalam proses pembelajaran. Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan, dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran merupakan proses komunikasi. Proses pembelajaran mengandung lima komponen komunikasi, guru (komunikator), bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan), dan tujuan pembelajaran. Jadi, Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar.

Media pembelajaran merupakan bagian yang paling penting dari proses belajar mengajar. Oleh karena itu, pemilihan media yang akan digunakan oleh guru (pengajar) harus melihat semua faktor dari perencanaan pembelajaran seperti tujuan pengajaran, materi/bahan belajar, dan tingkat perkembangan intelektual siswa (peserta belajar) untuk menciptakan suatu komunikasi yang efektif.


Faktor yang paling utama dalam pemilihan media agar dapat menyampaikan maksud atau pesan pengajar kepada peserta didik sehingga terbentuk suatu komunikasi yang efektif adalah media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran (TPU dan TPK) atau kompetensi yang ingin dicapai. Apakah tujuan itu masuk kawasan kognitif, afektif , psikhomotor atau kombinasinya? Jenis rangsangan indera apa yang ditekankan: apakah penglihatan, pendengaran, atau kombinasinya? Jika visual, apakah perlu gerakan atau cukup visual diam? Jawaban atas pertanyaan itu akan mengarahkan kita pada jenis media tertentu, apakah media realia, audio, visual diam, visual gerak, audio visual gerak dan seterusnya. Contoh : bila tujuan atau kompetensi peserta didik bersifat menghafalkan kata-kata tentunya media audio yang tepat untuk digunakan. Jika tujuan atau kompetensi yang dicapai bersifat memahami isi bacaan maka media cetak yang lebih tepat digunakan. Kalau tujuan pebelajaran bersifat motorik (gerak dan ativitas), maka media film dan video bisa digunakan.

Faktor lainnya yang harus dipikirkan juga adalah peserta didik atau siswa. Siapakah sasaran didik (peserta didik) yang akan menggunakan media? bagaimana karakteristik mereka, berapa jumlahnya, bagaimana latar belakang sosialnya, apakah ada yang berkelainan, bagaimana motivasi dan minat belajarnya? dan seterusnya. Apabila kita mengabaikan kriteria ini, maka media yang kita pilih atau kita buat tentu tak akan banyak gunanya. Mengapa? Karena pada akhirnya sasaran inilah yang akan mengambil manfaat dari media pilihan kita itu. Oleh karena itu, media harus sesuai benar dengan kondisi mereka.

Terkait dengan komunikasi yang efektif, salah satu faktor dalam penentuan media pembelajaran adalah bahan ajar/materi. Media pembelajaran yang dipilih harus sesuai dengan materi atau isi pembelajaran dalam arti “relevan”. Media harus sesuai dengan materi pembelajaran (instructional content) yaitu bahan atau kajian yang akan diajarkan pada program pembelajaran tersebut. Pertimbangan lainnya, dari bahan atau pokok bahasan tersebut sampai sejauhmana kedalaman yang harus dicapai, dengan demikian kita bisa mempertimbangkan media apa yang sesuai untuk penyampaian bahan tersebut.

titik kecil bernoda

ada yang salah,
tapi apa?

ada yg salah,
inikah?

ada yg salah,
itukah?

ada yg salah,
yah.. akulah yg salah.

selalu salah

yah, hanya satu titik
sangat kecil
tetapi bernoda
dan aku takut, ini akan menyebar
cukup hanya satu titik
jangan lebih dari itu


#kegalauan ngalor ngidul (maafkan aku blog, mengotorimu dengan curhatan tak penting :( )

Kamis, 06 Oktober 2011

Tangisan semu

sudah lama tak menulis di blog. terasa agak kaku untuk memulai kembali.

hanya sekedar share masa-masa indah itu, cukup menegangkan dan menunggu 2 hari penuh untuk tau apakah lulus atau tidak.
tepat tanggal 26 Juli 2011, saya bersama teman-teman seperjuangan Biologi Nondik angkatan 2007 memulai pertempuran, sungguh sangat mendebarkan, sensasi luar biasa yang selama ini tak pernah saya rasakan :)
semua berjalan cukup baik. presentasi didepan 3 dosen penguji dan tanya jawab kurang lebih 1 jam. Namun, beban masih ada. Menunggu hasil seutuhnya untuk mendapatkan gelar itu, S.Si alias Sarjana Sains.
Tanggal 28 Juli 2011, hari paling menentukan dan tertoreh dalam sejarah paling penting di hidup saya. Hari itu, saya dengan beberapa teman saya dinyatakan menjadi Alumni Biologi UPI.
Bulir bening mengalir tak tertahankan, saya tepis angkuh, tapi tak bisa ketika suara jernih wanita itu membacakan nama beserta yudisium saya. Rata Penuh
"Alhamdulillah y Allah.. saya LULUS"

Jumat, 26 November 2010

FPMIPA UPI "Kampus Tercinta"



Gedung JICA dari arah selatan (Pintu Masuk)

FPMIPA (Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) UPI merupakan salah satu kampus bergengsi di Bandung yang menghasilkan berbagai lulusan unggulan yang bisa bersaing di dunia kerja dan pendidikan. Gedung FPMIPA UPI merupakan hibah dari Jepang, oleh karena itu gedung ini biasa dikenal dengan sebutan gedung JICA.

(Gedung JICA dulu, sebelum penanaman pohon)
Pada Fakultas ini, terdapat 5 jurusan yaitu Pendidikan Biologi, Pendidikan Kimia, Matematika, Fisika dan Komputer. Setiap jurusan dibagi lagi menjadi 2 Program Studi yaitu Pendidikan dan Non-Pendidikan (non-dik). Namun, saat ini jurusan komputer sudah memiliki gedung sendiri dan keberadaannya di gedung JICA digantikan oleh jurusan baru yaitu IPSE. Jurusan IPSE merupakan penjurusan internasional yang baru dirintis di MIPA.
(Bagian Tengah gedung JICA)

Gedung JICA terdiri atas 5 tingkat bangunan. Bagian selatan merupakan pintu utama dari gedung JICA. Selain itu, di lantai atasnya terdiri atas ruangan para dosen dan pejabat kampus serta beberapa ruangan kelas yang biasa digunakan oleh semua mahasiswa. Bagian barat terdiri atas cafetaria upi di lantai 1, auditorium yang sering digunakan sebagai tempat seminar nasional dan internasional di lantai 2-3, dan 4-5 merupakan ruangan pengontrolan. Di bagian utara, lantai 1-2 merupakan deretan Laboratorium Biologi dan ruangan dosen. Tingkat 3-4 merupakan laboratorium Fisika dan tingkat 5 merupakan ruangan Laboratorium Kimia. Di bagian Timur, di lantai 1 terdapat musholla, perpustakaan, dan beberapa ruangan dosen matematika, di lantai 2-3 merupakan ruangan perkuliahan dan ruangan dosen tertentu. sedangkan di Lantai 4 adalah ruangan besar yang biasa digunakan untuk perkuliahan umum seperti mata kuliah Kimia umum, Fisika umum, Biologi umum dan Matematika dasar.
Kampus JICA merupakan gedung yang diadaptasi dari bangunan-bangunan Jepang. Baik dari bahan-bahan yang digunakan serta bentuk yang unik. Hal inilah yang membedakan gedung JICA dengan gedung-gedung fakultas lain di Universitas Pendidikan Indonesia. Prestasi yang dihasilkan para mahasiswa di FPMIPA UPI juga tidak kalah dengan beberapa kampus bergengsi lainnya di Bandung. Maka tidak aneh, jika gedung ini beserta para mahasiswanya yang pintar sangat populer di kalangan mahasiswa dan dosen se-UPI.
Saya merupakan mahasiswi jurusan Pendidikan Biologi tingkat akhir yang sedang disibukkan dengan berbagai rutinitas kuliah yang semakin padat dan tugas plus-plus, dan saya bangga bisa kuliah dan menimba ilmu di gedung ini. Thanks God..

Kunjungan Laboratorium Instrumen FPMIPA UPI


Sebenarnya ini merupakan salah satu tugas dari mata kuliah yang saya kontrak saat ini, semester 7 yaitu "Toksikologi". Walaupun penuh dengan ketidakjelasan alias GJ, kami mahasiswa biologi tetap ngelaksanain tugas yg diamanahin ma ibu dosen tercinta..

Tanpa arahan and bimbingan sebelumnya, sudah dianggap dewasa and bisa segalanya mereun nya'.. amieennndd.. emang kita segala bisa.. ^^,
Kegiatannya dimulai dari jam 10.00-12.00 Langsung ke lantai 5, karena tempatnya cuman beda lantai aj dengan biologi..
Ternyata, kami dibagi menjadi 2 kloter. kelompok 1-6 menjadi kloter 1 dari jam 10.00-11.00, and 7-12 kloter ke 2 dari jam 11.00-12.00. And, alhasil kelompok saya yg kloter ke-2. Ampuuun, nunggu lagi deh.. tau lah, mahasiswa semester akhir tu banyak tugas and be a super busy.. gayyyaaa gan.. tapi, sebagian kelompok saya juga ada yang masuk ke kloter 1. cuman numpang absen ceunah.. (gak bole ditiru nih yg kayak gni.. tp kalo lgi kepepet mah, gak apa2..)

kloter 1, lamaaaa banget beresnya.. ternyata c ibu yang ngejelasin all about alat instrumen yang biasa di gunakan orang biologi mengira kami cuma 1 kloter. Y ampuuun, kasian kami yg kloter ke-2. waktunya mepet, jam 1 ada kuliah lagi. setelah masuk, kami dipaparin tentang GCMS, SSA, GC dan MS. Sedangkan alat lainnya, seperti HPLC dan FTIR dijelasin ama temen yang sebelumnya. Waktunya gak akan cukup gan.. saya si tertariknya ke SSA aja soalnya alat ini sepertinya akan sering saya gunakan beberapa bulan ke depan.. alat penelitian.. ^^

Beres penjelasan alat-alat.. kirain teh cuman pengenalan doank, udah deh,, eh dari c ibu dosen ternyata disuruh buat laporannya.. Padahal tau sendiri kan saya juga tidak penjelasan mendetail tentang semua alat. Alhasil, searching lagi deh..

Ni dibawah ini Rangkuman laporan Saya.. ^^,
Mudah-mudahan bermanfaat,, Amien..

PENGAMATAN ALAT-ALAT LABORATORIUM INSTRUMEN KIMA

A. PELAKSANAAN KEGIATAN
Hari, Tanggal : Rabu, 03 November 2010
Waktu : 10.00-12.00
Tempat : Laboratorium Instrumen Kimia FPMIPA UPI

B. TUJUAN PRAKTIKUM
Mengetahui dan mempelajari cara kerja alat-alat di Laboratorium Instrumen.

C. LANDASAN TEORI
Laboratorium kimia merupakan kelengkapan sebuah program studi yang digunakan untuk meningkatkan ketrampilan penggunaan dan pemakaian bahan kimia maupun peralatan analisis (instrumentasi). Dalam penggunaan lanjut, laboratorium merupakan sarana untuk melaksanakan kegiatan penelitian ilmiah. Laboratorium kimia dengan segala kelengkapan peralatan dan bahan kimia merupakan tempat berpotensi menimbulkan bahaya kepada para penggunanya jika para pekerja di dalamnya tidak dibekali dengan pengetahuan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja,.
Laboratorium Instrumen digunakan untuk kegiatan praktikum kimia instrumen, kimia makanan, dan kimia pemisahan lanjut. Peralatan pendukung utama yang tersedia adalah HPLC, GC, GCMS, AAS, Spektrofotmeter UV/VIS, FTIR, COD/BOD, Turbidimeter, Centrifuge, Freeze dryer, dan oven/furnace, dan water demineralizer.
Selain kegiatan praktikum di atas, laboratorium instrumen juga melayani pengukuran yang diperlukan untuk kegiatan praktikum lain seperti praktikum kimia analisis lanjut, kimia analitik II, pengolahan air/limbah, kimia anorganik II, dan kimia organik/organik bahan alam.

D. HASIL PENGAMATAN
Pada praktikum kali ini, kami mahasiswa biologi Universitas Pendidikan Indonesia melakukan kegiatan kunjungan di Laboratorium Kimia Instrumen. Pada Laboratorium ini banyak terdapat alat-alat yang mendukung kegiatan praktikum di Biologi khususnya mata kuliah Toksikologi. Adapun alat-alat yang kami dapatkan yang tidak ada di Laboratorium Biologi adalah:
  1. GC merupakan alat atau suatu sistem yang dapat menganalsis sample berupa gas atau larutan yang dapat berubah menjadi gas pada tekanan dam temperatur tertentu. Prinsip dasarnya yaitu pemisahan komponen-komponen berdasarkan daya absorpsinya terhadap fasa diamnya. jadi yang namanya GC mempunyai dua fasa yaitu fas gerak (cariier gas) dan fasa diam.
  2. GC-MS merupakan pengembangan dari GC, cuma ditambah spektroskopi massa. dengan GC-MS senyawa2 yang sudah di pisahkan oleh GC dapat langsung dikethui dengan MS, melalui fragmen2nya. GCMS sangat baik untuk mengindetifikasikan senyawa2 fase nonpolar/titik leleh rendah. Pada GC-MS, adanya penambahan detector dari GC tsb. jadi kalu GC sudah menggunakan MS maka kita akan mengetahui senyawa-senyawa yang akan kita analysis berdasarkan dari berat komponen-komponen setiap peaknya berdasarkan mol weight nya juga dan kita kan tahu senyawa-senya yang telah kita injeksikan ke dalam GC tersebut senyawa apa.
  3. SSA. Spektrometri merupakan suatu metode analisis kuantitatif yang pengukurannya berdasarkan banyaknya radiasi yang dihasilkan atau yang diserap oleh spesi atom atau molekul analit. Salah satu bagian dari spektrometri ialah Spektrometri Serapan Atom (SSA), merupakan metode analisis unsur secara kuantitatif yang pengukurannya berdasarkan penyerapan cahaya dengan panjang gelombang.
  4. FTIR
  5. HPLC

Jumat, 12 November 2010

Tradisi Unik n Antik


Ini adalah saya, gadis desa tapi besar didaerah orang and alhamdulillah mendapat berbagai pengalaman sebagai pelajaran di dalam kehidupan. Inilah saya yang real.. Rumah khas di Lombok yang terbuat dari pagar dan beratapkan rumbia, tapi sekarang sudah tergantikan oleh genteng yang terbuat dari batu bata.

Suatu tradisi yang berasal dari nenek moyang. terkadang dianggap sebagai warisan budaya leluhur yang bernilai tinggi oleh beberapa orang tertentu. Namun, terkadang juga,, suatu tradisi dianggap kuno dan tidak modern, sehingga memperlambat modernisasi.
Di desa Kawo, Kecamatan Pujut Lombok Tengah, NTB, masih terdapat beberapa tradisi masyarakat setempat yang sampai sekarang terus dilakukan. Misalnya saja, budaya "begawe" yang merupakan syukuran atas pernikahan dari keluarga tertentu selama beberapa hari. "begawe" adalah semacam pemberitahuan ke khalayak umum atau masyarakat luas mengenai adanya suatu acara penting yang biasanya disertai dengan pesta dan makan-makan. Pernikahan di desa-desa biasanya terjadi setelah panen padi selesai yaitu sekali setahun. Begawe identik dengan makanan berupa daging yang dibumbui ala daerah tersebut, sayur ares (sayur yang bahan bakunya dari batang pisang), dan serebuk (sejenis gado-gado). Umumnya di acara ini, pada malam inti ada hiburan berupa nyanyian dari masyarakat setempat (biasanya Adip) dan ditonton oleh orang-orang setempat. Para muda mudi memanfaatkan acara ini untuk pertemuan dan mengobrol, selain itu bisa saja digunakan untuk mencari pasangan atau jodoh. Para pemudi yang datang menonton acara hiburan menggunakan sarung khas (bendang) yang mencirikan perempuan desa, sedangkan pemuda terkadang menggunakan pengikat kepala dan sarung khas daerah pula.


Rata TengahTradisi lama pada acara begawe, yang sudah mulai ditinggalkan adalah "ngumbuk". Sangat disayangkan sekali, tradisi ini sudah mulai punah di desa Kawo. Namun, ditempat lain, ada beberapa desa yang masih melakukan proses "ngumbuk". Ngumbuk dalam bahasa sasak memiliki pengertian yang luas. Namun, dalam hal ini penulis membatasinya pada ruang lingkup di satu desa saja, yaitu desa Kawo. Ngumbuk diartikan sebagai memberi suatu barang (sabun, makanan, dan minuman seperti sprite, coca cola dll) pada wanita yang disukai oleh pria yang dilakukan pada malam begawe. Ngumbuk merupakan pembuktian cinta pria tersebut pada wanita di khalayak umum. Istilah sekarang adalah proses mengatakan cinta. Pada saat pemberian barang, si cowo tidak langsung memberikan tetapi melalui perantara orang ketiga.
Terlalu banyak tradisi dan kebudayaan di desa ini yang belum diceritakan secara mendetail. Bagian diatas merupakan awal perkenalan mengenai desa yang merupakan tempat kelhiran saya ini.
Tradisi di atas menurut saya sebagai pemudi asli desa Kawo, sangat unik dan berbeda dari kebudayaan daerah luar yang pernah saya temui. Oleh karena itu, diperlukan suatu kesadaran untuk melestarikan dan mempromosikannya ke luar sebagai aset daerah. Selain itu, perlu ditekankan disini bahwa suatu tradisi jika dibarengi dengan kesadaran pribadi maka tidak akan menghalangi suatu perkembangan di desa tersebut, malah akan menambah nilai kekayaan desa.


(Masi Belajar menulis)
Mohon Kritikannya..

Jumat, 15 Oktober 2010

Proses Transkrip Pasca-Transkripsi

Pemotongan dan penyambungan RNA ( splicing )
Pada eukaryot banyak terdapat gen yang organisasinya tersusun atas akson dan intron, meskipun tidak semua gen eukaryot mempunyai intron. Pada awalnya, gen yang terdiri atas ekson dan intron yang ditranskipsi menghasilkan pre-mRNA (transkripsi primer, primary transcpt ) karena masih mengandung sekuensi intro. Pada tahapan selanjutnya intron akan dipotong dari pre-mRNA dan ekson-ekson yang ada selanjutnya disambung menjadi mRNA yang matang ( mature mRNA ). Proses pemotongan intron dan penyambungan kembali ekson-ekson disebut sebagai proses penyambungan RNA ( RNA splicing ). Transkripsi mRNA yang sudah matang inilah yang selanjutnya akan ditranslasi.
Proses splicing RNA adalah proses yang sangat akurat. Akurasi proses pemotong dan penyambungan ditentukan oleh suatu urutan nukleotida yang dikenal sebagai splicing signals. Sejauh ini nukleotida lestari yang ditemukan pada beberapa intron yang berbeda yang diketahui adalah dua nukleotida pada ujung intron, yaitu :
Ekson-GU..............AG-ekson

Selain urutan tersebut juga ada urutan kosensus pada bagian pertemuan antara ekson dan intron. Pada gen-gen yang ada dalam nukleus, urutan konsesusnya adalah sebagai berikut :

A64 G73 G100 U68 A68 A68 G84 U63...............Gpy74-87 n C65 A100 G100 n

Angka-angka menunjukkan persentase frekuensi nukleotida pada tiap posisi, jika angkanya 100 berarti basa tersebut selalu berada pada posisi tersebut. N dan py menyatakan nukleotida apa pun atau basa pirimidin yang mungkin ada pada posisi tersebut. Urutan nukleutida pada bagian pertemuan ekson-intron tersebut berbeda untuk gen tRNA dan gen struktural pada mitokondria dan kloroplas karena adanya perbedaan dalam hal mekanisme pemotongan-penyambungan RNA-nya. Pada gen-gen yang ada dalam nukleus hanya ada dalam urutan nukleotida lestari. (conserved ) yang pendek yaitu tactaac, yang terletak sekitar 30 pasangan basa di sebelah hulu dari sisi 3’ penyambungan. Residu adenine pada posisi keenam kotak tactaac adalah residu yang lestari dan mempunyai peranan sangat penting dalam proses pemotongan-penyambungan intron-ekson. Secara umum dapat disebut bahwa sekuens intron pada gen-gen dalam nukleus bersifat acak, kecuali sekuens dinukleutida gt dan ac serta kotak tactaac. Intron pada gen-gen dalam inti sel. Sekuens konsensus pada daerah perbatasan antara ekson-intron pada prekursor mRNA khamir telah diketahui dengan urutan sebagai berikut :

5’ – GUAUGU – intron - UACUAAC – pyAG – 3’

Dari beberapa penelitian diketahui bahwa sinyal untuk pemotongan intron dan penyambungan ekson ( splicing signals ) pada prekursor mRNA gen-gen pada nukleus sangat seragam, yaitu kedua basa intron pertama hampir selalu mengandung gu dan dua basa terakhir hampir selalu mengandung ag. Selain itu, keseluruhan sekuens konsensus sangat penting untuk pemotongan intron dan penyambungan ekson secara tepat. Mutasi pada sekuens konsensus dapat mengakibatkan splicing yang abdnormal. Sifat lestari ujung 5’ dan 3’ pada posisi pemotongan-penyambungan serta kotak tactaac menunjukan bahwa hal ini mempunyai fungsi sangat pen ting dalam ekspresi genetik. Mutasi pada bagian tersebut dapat menyebabkan perubahan fenotip pada banyak jasad eukaryot. Sebagai contoh, mutasi pada daerah ini seringkali bertanggung jawab dalam pemunculan penyakit menurun pada manusia, misalnya kelainan hemoglobin.
Penelitian menunjukan bahwa proses pemotongan intron dan transkrip RNA terdiri atas tiga tipe yang bebeda yaitu :
  1. Intron pada prekursor tRNA dipotong dengan menggunakan endonuklease secara tepat diikuti oleh reaksi ligasi ( penyambungan ) menggunakan enzim ligase.
  2. Intron pada beberapa prekursor rRNA dihilangkan dengan mekanisme auto katalitik melalui reaksi unik yang melibatkan molekul RNA itu sendiri dan tidak melibatkan aktivitas enzim.
  3. Intron pada pre-mRNA dipotong dengan mekanisme reaksi dua-langkah yang dilakukan oleh partikel ribonukleoprotein yang disebut spliceosome.
Mekanisme splicing prekursor mRNA inti sel
Proses splicing menghasilkan suatu struktur cabang yang disebut dengan lariat karena bentuknya seperti tali laso. Pada tahap pertama, gugus 2’-oh nukleotida adenine yang ada dalam intron menyerang ikatan fosfodiester yang menghubungkan ekson 1 dengan intron. Hal ini menyebabkan terputusnya ikatan ekson 1 dengan intron sehingga dihasilkan ekson 1 yang bebas dan struktur lariat yang merupakan gabungan antara intron dengan ekson 2. Struktur lariat tersebut mempunyai ujung 5’ gu yang berikatan dengan titik percabangan melalui ikatan fosfodiester antara intron dengan ekson 2, menghasilkan struktur intron berbentuk lariat dan ekson 1/ ekson 2 yang bersambungan. Penyambungan antara ekson 1 dan ekson 2 diperantai oleh gugus fosfat pada ujung 5’ ekson 2.
Penelitian pada khamir menunjukan bahwa spilicing berlangsung didalam suatu partikel berurutan 40s yang disebut sebagai spliceosome. Partikel tersebut mempunyai peranan sangat penting dalam splicing karena pre-mRNA yang mengalami mutasi A menjadi C.
Pada titik percabangan tidak dapat mengalami splicing. Hal itu disebabkan RNA semacam ini tidak mampu membuat struktur spliceosome. Selain partikel spliceosome, faktor lain juga berperan penting dalam splicing adalh molekul RNA berukuran kecil yang disebut small nuclear RNA ( snRNA ) yang berasosiasi dengan suatu protein membentuk kompleks small ribonuclear proteins ( snrnp, dibaca “ snurp “ ). Kompleks tersebut dapat dipasangkan dipisahkan dengan elektroforesis gel menghasilkan partikel-partikel individual yangb disebut u1, u2, u4, u5 dan u6.

Mekanisme splicing secara autokatalik
Mekanisme ini terjadi pada prekursor rRNA tanpa melibatkan enzim. Lebih jauh telah diketahui pula bahwa mekanisme semacam ini juga terjadi pada pemotongan intron prekursor rRNA, tRNA, mRNA yang ada pada mitokondria dan kloroplas banyak spesies, misalnya pemotongan intron gen 26s rRNA dan tetrahymena. Mekanisme splicing autokatalitik tidak memerlukan energi maupun enzim tetapi melibatkan reaksi transfer ikatan fosfoester tanpa ada ikatan yang hilang. Proses pemotongan intron secara autokatalitik dapat dibedakan menjadi dua yaitu pada gen-gen yang mengandung intron grup i dam intron grup ii.
Pada intro grup i ( misalnya 26s rrn pada tetrahymena ), proses splicing melibatkan penambahan nukleotida guanine pada ujung 5’ intron. Guanine tersebut adalah nukleotida yang berasal dari luar, bukan bagian integral intron seperti yang diamati pada splicing menggunakan spliceosome. Pada tahap pertama, nukleotida guanine menyerang nukleotida adenine pada ujung 5’ intron dan melepaskan ekson 1. Pada tahap kedua, ekson 1 menyerang ekson 2 sekaligus melakukan penyambungan ekson 1 dan ekson 2 serta melepaskan intron berbentuk linier. Selanjutnya, dengan proses yang berbeda, intron linier dipotong nukleotidanya sebanyak 19 nukleotida dari ujung 5’.

Mekanisme splicing precursor tRNA
Mekanisme splicing precursor tRNA pada sacchromyces cerevisiaemalaui du tahapan. Dalam tahapan pertama, enzim yang disebut splicing edonuklease (tRNA endonucleasse) yang terikat pada memberan nucleus melakukan dua pemotongan secra tepat pada kedua ujung intrn. Selanjutnya pada tahap ke dua suatu enzim yang disebut splicing ligase (RNA ligase) menyambung kedua bagian tRNA sehigga dihasilkan molekul tRNA yng sedah matang.
Beberapa mekanisme splicing yang dijelaskan adalah mekanisme cis splicing yaitu proses splicing yng melibatkan dua ekson atau lebih yang ada pada gen yang sma. Penelitian pada triphanosoma, protozoa yang memiliki alatgerak flagella, menunjukkan ada mekanisme splicing alteRNAtive yang disebut trans-splicing . Pada trans-splicing ekson-ekson yang digabungkan erasal dari gen yang sama, bahkan dapat berasal dari kromosom yang berbeda. Penelitian yang lebih lanjut pada jasad ini menunjukkan bahwa semua mRNA mempunyai 35 nukliotida awal (leader), disebut sebagai splicid leader(sl), tetapi gen-gen yang mengkode mRNA tersebut tidak mempunyai urutan komplementer ke 35 nukleotida awal. Gen yang mengkode sl tersebut diketahui berulang sekitar 200 kali pada genon tripanosoma. Gen tersebut hanya mengkode sl ditambah 100 nukleotida yang tersambung pada sl melalui skekuen splising. Consensus pada ujung 5’. Dengan demikian gen mini tersebut tersusun ekson sl yang pendek dan ujung 5’ suatu intron.

Poliadenilasi mRNA
Transkrip mRNA pada eukariot juga mengalami pemprosesan dalam bentuk penambahan polia (ranntai amp). Pada ujung 3’ sepanjang kurang lebih 200-250 nukletida. Penambahan polia semacam ini tidak terjadi pada rRNA maupun tRNA. Rantai polia tersebut ditambahkan pasca transkripsi karena tidak ada bagia gen yang mengkode rangkaian a atau t semacam ini. Penambahan tersebut dilakukan dengan menggunakan aktivitas enzim poli(a) polimease yang ada di dalam nucleus. Sebagai besar mRNA mengandung polia kecuali mRNA histon.
Penambahan polia pada ujung 3’ meningkatkan stabilitas mRNA sehingga mRNA memiliki umur yang leih panjang dibandingkan mRNA yang tidak memiliki polia. Selain itu juga ada bukti yang mununjukkan bahwa keberadaan poli a meningkatkan efisies=nsi translasi mRNA semacam itu. Diketahui ada suatu protein, yaitupoli(a) bindng protein i., yang menenpel pada polia sehingga meningkatkan eisiensi translasi. Bukti lain juga menegaskan bahwa mRNA yang mempunyai polia, mempunyai kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengikat ribosom sehingga dapat meningkatkan efisiensi translasi dibndingkan mRNA yang tidak mengalami poliadenilasi. Poliadenilasi dlakukan pada prekusor mRNA bahkan sebulum terjadi termnasi transkripsi. Hal tersebut dlakukan dengan cra memoton prekusor mRNA pada bagian yang nantinya akan menjadi bagian mRNA yang matang, kemudian dilanjutkan dengan penambhan polia paa ujung 3’ yang terbuka. Bagian mRNA yang isentesis setelah poliadenilasi selanjutnya akan didegradasi.
Tempat dilakukannya poliadenilasi dicirikan oleh suatu sinyal poliadenilasi pada gen mamalia. Sinyal tersebut terdri aas rankaian nukleotida aataaa yang diikuti oleh sekitas 20 tida yang kaya kakn residu gt serta diikuti oleh motif yang kaya akan t. Transkrip mRNA pada tanaman dan khamir juga mengalami poliadenilasi tetapi sinya poliadenilasinya berbeda dari yang ada pada mamalia karena ada variase pada sekuens aataaa. Pada khamir jarang sekali ada moif aataaa yang ditemukan.
Penambahan tudung (cap) pada mRNA
Pada mRNA eukariot mengalami meilasi (penambahan gugus metal) yang sebagian besar terakumulasi pada ujung 5’ mRNA. Struktur ini kemudian dikenal sebagai tudung mRNA (mRNA cap). Pada perkembangan selanjutnya, tudung mRNA tersebut merupakan molekul 7 metilguanosin (m7g). Tudug mRNA tersebut disintesis dalam beberapa tahap. Pertama, enzim RNA triposphatase memotong gugus fosfat pada ujung pre-mRNA, kemudian nzim guanilil transferase menambahkan gnp. Selanjutnya, enzim metal transferase melakukan metilasi tudung guanosin pada n7 dan gugus 2’-o metal pada nukleotida pada ujung tudung tersebut. Proses penambahan tudung tersebut berlagsung pada tahapan awal transkripsi sebulum transkrip mencapai panjang 30 nukleotida.
Tudung mRNA memiliki empat macam fungsi yaitu :
  1. melindungi mRNA dari degradasi,
  2. meningkatkan efisiensi translasi mRNA,
  3. meningkatkn pengangkutan mRNA dari nucleus ke sitoplasme,
  4. meningkatkan efisiensi proses splicing mRNA.
Tudung m7g berikatan dengan mRNA melalui ikatan trifosfat dan hal ini diperkirakan untuk melindungi mRNA dari serangan RNAse yang tidak dapat memotong ikatan triphosphat. Tudung tersebut juga meningkatkan efisiensi translasi karena ribosom dapat mengakses mRNA melalui suatu protein yang menempel pada tudung. Dengan demikian, jika tida ada tudung, maka proein yang melekat pada tudung tidak dapat menempel. Hal itu akhirnya mengurangi kemungkinan ribosom untuk menempel dan melakukan translasi.

Pemrosesan rRNA dan tRNA
Molekul rRNA yang dihasilkan pada prokariot maupun eukariot pada awlnya berupa prekosor yang erukuran leih anjang dari molekul yang matang. Sebagai contoh, pada mamalia, dihasilkan prekuso rRNA yang berukuran 45s yang sesungguhnya terdiri atas ukurang yang lebih kecil yaitu 28 s, 18s, dan 5,8s. Nukleotida diantara unit-unit kecil tersebut harus dipotong (diproses) untuk menghasilkan unit-unit fungsional yang lebih kecil. Perlu diperhaikan bahwa pemrosesan prekusor rRNA yang dimaksud disini buknlah splicing, karena splicing adalah proses pemotongan intron yang ada di dalam struktur inteRNAl transkrip dan diikuti oleh penyambungan ekson. Pada pemrosesan prekusor rRNA semacam ini idak ada penyambungan kembali molekulmolekul rRNA yang sudah dipotong karena masing-masing unit yang dihailkan adalah unit independen.
Selain rRNA, molekul tRNA juga disintesis juga disintesis dalam dibentuk prekusor. Pada prokariot, prekusor tersebut dapat terdiri atas satu tRNA atau lebih, atau kadang bercampur dengan rRNA. Untuk memotong prekusor yang terdiri atas lebih dari satu tRNA atau campuran tRNA danrRNA pada prokariot diperlukan aktifitas enzim RNAse iii. Setelah dipotong , tRNA masih mengandung beberapa nukleotida pada ujung 5’ maupun 3’. Demikian pla pada eukariot, ujung5’ dan 3’ pada prekusor tRNA mengandung beberapa nukleotida. Nukleotida tambahan yang ada pada ujung 5 ‘ pada prekusor tRNA prokariot maupun eukariot akan dipotong oleh enzim RNAse p, sedangkan ujung 3’nya akan diproses dengan enzim RNAse d., RNAse bn, RNAse t, RNAse ph, RNAse ii, dan polinukleotida osforilase (PNPase).

Penyuntingan RNA
Selain fenomena trans-splicing, pada tripanosoma juga terdapat mekanisme pasca transkripsi lain yang aneh yang disebut sebagai penyuntingan RNA (RNA editing). Pada perkembangan selanjutnya diketahi bahwa sekuen mRNA sitokrom oksidase ii (coii) pada tripanosoma ternyata tidak sesuai dengan sekuens gen yang mengkodenya. Sekuens mRNA coii diketahui mengandung 4 nukleotida yang tidak terdapat pada gen coii yang ada di dalam kinetoplast (semacam mitokondria yang mengandung dua dna lingkar yang terikat bersama menjadi struktur catanane). Ketiadaan keempat nukleotida tersebut pada gen coii nampaknya dapat menyebabkan terjadinya mutasi pergeseran pola baca (framehift) yang dapat menyebabkan gen menjadi tidak ktif. Meskipun demikian, mRNA yang dihasilkan ternyata mengandung empat nukleotida tersebut sehingga tidak terjadi pergeseran pola baca. Rob banne berkesimpulan bahwa mRNA tripanosoma tersebut dikopi dari suatu gen yang tidak lengkap, disebut sebgai cryptogene, kemudian disun ting lagi dengan menambahkan empat nukleotida yang kesemuanya adalah urdine.
Penelitian-penelitian berikutnya membuktian bahwa penyuntingan mRNA memang fenomena umum pada tripanosoma. Bahkan, beberapa mRNA isunting secara sangat ekstensif, misalnya sukuens mRNA coii trypanosoma brucei sepanjang 731 nukleotiga mengandung 407 uridine (u) yang ditambahkan melalui proses penyuntingan. Selain penambahan, penyuntingan pada mRNA coii juga menghilangkan 19 uridine yang dikod. Fenomena penyuntingan tersebut diketahui selalu terjadi pada ujung 3’ dn tidak ada pada ujung 5’ dengan orientasi 3’ ke 5’. Penyuntingan tersebut diketahui dilakukan oleh suatu molekul RNA yang disebut sebagai guide RNA (gRNA). Molekul gRNA tersebut berhibidisasi dengan baigian mRNA yang tidak di edit dn menyediakan nukleotida a dan g sebagai cetakan untuk penggabungan nukleotida u yang tidak ada pada mRNA. Kadang-kadang gRNA tidak mempunyai a atau g yang dapat berpasangan dengan u pada mRNA sehingga nukleotida tersebut dihilangkan menggunakan enzim eksoniklease.

Note : semoga mudah dimengerti.. Amiend.. ^^