Rabu, 03 Juni 2009

Laporan Fisiologi Tumbuhan Potensial Air

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN

POTENSIAL AIR

Disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Fisiologi Tumbuhan

Oleh

NUNUNG HAERANI (0708802)

BIOLOGI BASIC SCIENCE/ C

PROGRAM STUDI BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

2008

POTENSIAL AIR

A. TUJUAN

Mengukur potensial air dalam jaringan tumbuhan.

B. LANDASAN TEORI

Potensial kimia adalah energy bebas per mol substansi di dalam suatu system kimia. Oleh karena itu, potensial kimia suatu sengawa di bawah kondisi tekanan dan temperatur konstan tergantung kepada jumlah mol substansi yang ada. Dalam hal hubungan air dan tanaman, potensial kimia dari air sering dinyatakan dengan istilah “ potensial air ”. Selanjutnya, bila potensial kimia dapat dinyatakan sebagai ukuran energi dari suatu substansi yang akan bereaksi atau bergerak, maka potensial air merupakan ukuran dari enegi yang tersediadi dalam air untuk bereaksi atau bergerak. Dengan kata lain, potensial air merupakan tingkat kemampuan molekul-molekul air untukmolekul difusi.

Potensial air murni adalah nol (0), adanya beberapa substansi yang terlarut di dalam air tersebut akan menurunkan potensial airnya, sehingga potensial air dari suatu larutan adalah kurangdari nol. Definisi ini hanya berlaku pada tekanan atmosfir. Apabila tekanan di sekitar sistem di tingkatkan atau di turunkan, maka secara otomatis potensial air akan naik atau turun sesuai dengan perubahan tekanan tersebut.

Di dalam suatu sel, potensial air memiliki dua komponen, yaitu potensial tekanan dan potensial osmosis. Potensial tekanan dapat menambah atau mengurangi potensial air, sedangkan potensial osmosis menujukkan setatus larutan di dalam sel tersebut. Dengan memasukkan suatu jaringan tersubut ke dalam seri larutan yang telah di ketahui potensial airnya, maka potensial air jaringan tunbuhan tersebut dapat diketahui.

C. CARA KERJA

Mengukur potensial air umbi jalar atau umbi kentang :

1. Pilihlah umbi kentang yang cukup besar dan buatlah silinder umbi dengan mempergunakan pengebor gabuh.

2. Buatlah silinder –silinder umbi tadi sama panjang, yaitu 4 cm sebanyak empat buah untuk masing-masing satu perlakuan (6 perlakuan )

3. Simpanlah masing-masing empat buah silinder dalam 20 ml larutan sukrosa 0,0; 0,2; 0,4; 0,6; 0,8 dan 1,0 M dalam tabung tabung reaksi. Berkerjalah dengan cepat untuk memperkecil terjadinya penguapan air dari permukaan silinder.

4. Tutup tabung reaksi tadi selama percobaan di lakukan. Setelah 60 menit, keluarkan silinder-silinder tadi dan ukur kembali panjangnya sampai mendekati 0,5 mm.

Mengukur potensial air daun Rhoeodiscolor dengan cara Shardakov :

1. Buatlah potongan daun Rhoeodiscolor dengan alat pengebor gabus.

2. Masukkan masing-masing 20 potongan daun ke dalam setiap tabung reaksi (6 tabung), yang berisi larutan suksosa 0; 0,2; 0,4; 0,6; 0,8; 1 M. kemudian tutuplah bagian mulut tabung reaksi dengan oleh kertas dengan rapat.

3. Setiap 15 menit sekali, goyangkan-goyangkanlah tabung reaksi dengan hati-hati agar kesetimbangan cepat tercapai.

4. Setelah 60 menit, bukalah tutup kertas pada mulut tabung reaksi dan keluarkanlah potongan-potongan daunnya dengan pinset yang sesuai dengan nomornya, biarkan larutan bekasnya tetap berada dalam tabung reaksi tersebut.

5. Ujilah larutan bekas tadi dengan larutan metilen blue yang konsentrasinya sesuai dengan konsentrasi larutan sukrosa. Cara pengujian adalah sebagai berikut :

Pipetlah larutan metilen blue dengan pipet, kemudian teteskanlah satu atau dua tetes larutan tersebut di atas permukaan larutan yang akan diuji. Amati peristiwa yang terjadi.

6. Lakukan pengujian terhadap seluruh tabung reaksi.

7. Sekarang perhatikanlah pada tabung reaksi mana konsentrasi sukrosa bekas tadi tidak mengalami perubahan dengan cara memperhatikan larutan pengujinya.

Apabila larutan penguji jatuh ke bawah larutan yang diuji, berarti larutan yang diuji telah mengalami pengenceran karena ada air dari daun yang keluar masuk ke dalam larutan.

Apabila larutan penguji melayang dalam larutan yang diuji, di ikuti dengan tersebarnya larutan-larutan penguji tadi ke seluruh larutan yang diuji berarti tidak ada perubahan konsentrasi.

Apabila larutan penguji tetap berada di permukaan larutan yang diuji berarti larutan tersebut telah menjadi pekat karena ada air dari larutan yang masuk ke dalam daun.

Selanjutnya, apabila konsentrasi tidak berubah maka potensial air daun rhoedicolor sama dengan potensial air larutan sukrosa dimana daun tadi di simpan.

D. HASIL PENGAMATAN

Data kelas

Kelompok

Larutan (s)

Perlakuan

G

Larutan penguji

1

0M

0,2 M

0,4 M

0,6 M

0,8 M

1 M

0,433

0,098

-1,13

-2,285

-2,808

-3,325

Terapung

Tenggelam

Tenggelam

Tenggelam

Tenggelam

Tenggelam

2

0M

0,2 M

0,4 M

0,6 M

0,8 M

1 M

0,264

-0,094

-1,172

-1,956

-2,289

-2,792

Terapung

Tenggelam

Tenggelam

Tenggelam

Tenggelam

Tenggelam

3

0M

0,2 M

0,4 M

0,6 M

0,8 M

1 M

1,0736

0,239

-0,763

-2,091

-2,183

-2,419

Terapung

Tenggelam

Tenggelam

Tenggelam

Tenggelam

Tenggelam

4

0M

0,2 M

0,4 M

0,6 M

0,8 M

1 M

0,2376

-0,0654

-0,6819

-1,0299

-1,4215

-1,3809

Terapung

Tenggelam

Tenggelam

Tenggelam

Tenggelam

Tenggelam

5

0M

0,2 M

0,4 M

0,6 M

0,8 M

1 M

0,609

0,008

-1,021

-1,729

-2,597

-2,926

Terapung

Tenggelam

Tenggelam

Melayang

Melayang

Tenggelam

6

0M

0,2 M

0,4 M

0,6 M

0,8 M

1 M

20 ml 70’

0,1009

-0,485

-1, 2689

-2,7642

-2,929

-3,2579

Terapung

Tenggelam

Tenggelam

Tenggelam

Tenggelam

Tenggelam

E. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini, yang akan dikerjakan adalah mengukur potensial air dalam jaringan tumbuhan, yaitu pada umbi kentang dan daun Rhoeodiscolor. Untuk mengukur potensial pada umbi kentang, digunakan larutan sukrosa dengan berbagai konsentrasi, yaitu 0; 0,2; 0,4; 0,6; 0,8; 1 M. Umbi kentang terlebih dahulu di buat silinder menggunakan pengebor gabus dengan diameter 1,4 cm dan panjang 4 cm. Setelah dimasukkan ke dalam larutan sukrosa dengan berbagai konsentrasi, umbi kentang mengalami perubahan berat.

Pada kelompok kami, dengan perlakuan larutan sukrosa 20 ml dalam waktu 60 menit, umbi kentang pada larutan sukrosa 0 M mengalami pertambahan berat sebesar 0,609. Begitu pula halnya pada larutan sukrosa 0,2 M yaitu sebesar 0,008. Hal ini menunjukkan bahwa air pada larutan sukrosa mengalir masuk ke dalam jaringan, yang menandakan bahwa potensial air pada larutan sukrosa lebih tinggi dibandingkan dengan potensial air pada kentang. Sedangkan pada larutan sukrosa 0,4; 0,6; 0,8 dan 1 M, umbi kentang mengalami pengurangan berat dan kondisi fisiknya pun berubah, yaitu kentang menjadi lembek dan lentur. Perubahan berat umbi kentang berturut-turut adalah -1,021; -1,759; -2,597; -2,926. Semakin besar konsentrasi larutan sukrosa, maka berat umbi kentang pun semakin menurun. Hal ini menunjukkan bahwa air pada kentang keluar menuju larutan sukrosa karena konsentrasi larutan sukrosa lebih pekat. Dengan kata lain, potensial air larutan sukrosa <>

Pada percobaan kedua, yaitu mengukur potensial air daun Rhoeodiscolor. Untuk mengukur potensial air daun Rhoeodiscolor, dibutuhkan larutan sukrosa masing-masing 10 ml dengan konsentrasi 0; 0,2; 0,4; 0,6; 0,8; 1 M. Daun yang telah di bor menggunakan pengebor gabus sebanyak 25 potong, dimasukkan kedalam larutan sukrosa yang telah disiapkan selama 60 menit. Setiap 15 menit, tabung reaksi tersebut digoyangkan agar cepat mencapai kesetimbangan. Setelah 60 menit, daun tersebut kemudian dikeluarkan menggunakan pinset. Larutan bekas daun inilah yang akan diuji menggunakan larutan metilen blue dengan konsentrasi yang sama, yaitu 0; 0,2; 0,4; 0,6; 0,8; 1 M. Pada larutan sukrosa dengan konsentrasi 0 M yang diuji menggunakan larutan metilen blue 0 M, ternyata larutan metilen blue berada di permukaan air (terapung). Hal ini menunjukkan bahwa larutan sukrosa 0 M tersebut telah menjadi pekat karena ada air dari larutan yang masuk ke dalam daun. Dengan kata lain, potensial air larutan sukrosa 0 M lebih besar dibandingkan dengan potensial air daun Rhoeodiscolor. Selanjutnya, pada larutan sukrosa 0,2 ; 0,4 dan 1 M, larutan metilen blue jatuh ke bawah larutan sukrosa (tenggelam). Hal ini menunjukkan bahwa larutan sukrosanya telah mengalami pengenceran karena air dari daun keluar, masuk menuju ke larutan.

Pada larutan sukrosa 0,6 dan 0,8 M, larutan metilen blue melayang. Hal ini menandakan tidak terjadinya perubahan konsentrasi. Peristiwa ini tidak akan terjadi apabila tidak terdapat kesalahan dalam proses pengerjaan, yaitu kecerobohan praktikan. Pada saat pengujian larutan, penetesan metilen blue dilakukan tanpa menghomogenkan larutan sukrosa terlebih dahulu sehingga larutan metilen blue melayang pada larutan sukrosa. Selain itu, pinset yang digunakan pada saat pengambilan daun tidak dibedakan sehingga konsentrasi larutan sukrosa antara larutan sukrosa yang lain bercampur.

DAFTAR PUSTAKA

Tim fisiologi tumbuhan. 2009. Penuntun Praktikum FISIOLOGI TUMBUHAN. Bandung : Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar